Beranda » Portofolio » Teori kepemimpinan

Teori kepemimpinan

T Diposting oleh pada 15 March 2017
Untuk menjadi seorang pemimpin tegas dan bijaksana tidak hanya bergantung kepada mental dan kepercayaan diri, melainkan rasa memiliki dan passion yang kuat serta self manajemen yang baik agar menjadi pemimpin yang tegas dan bijaksana.

“Bersikap tegas adalah memberitahu orang lain tentang sesuatu yang Anda inginkan dan tidak Anda inginkan dengan cara yang jujur, lugas, elegan, dan penuh percaya diri. Kemudian, orang yang tegas siap bertanggung jawab atas apa yang telah ia katakan.”
Di sini kita melihat bahwa tegas bukan berarti keras. Tegas adalah keras merupakan salah satu kesalahan persepsi yang umum. Pemimpin yang tegas bukanlah pemimpin yang “rajin” marah-marah tanpa dasar. Sikap tegas adalah  sikap kuat dalam mempertahankan pendapat, tapi pada saat yang bersamaan juga berpikiran terbuka (yang perlu dibedakan dengan “sikap ngotot dan tidak mau mendengar pendapat orang lain”).
Menjadi pemimpin atau karyawan yang tegas berarti mampu menyampaikan pendapat dengan sikap yang tetap santun, tidak perlu meninggikan suara, tetapi dengan penekanan yang jelas, agar orang lain memahami apa yang kita ingin atau maksudkan. Meskipun pemimpin yang tidak tegas maupun pemimpin yang tegas dapat saja marah sesekali (atau terlalu sering), ada ciri-ciri khusus yang dapat kita lihat pada diri pemimpin yang tidak tegas, yaitu:
1. Tidak berani membuat keputusan pada waktu/situasi yang tepat, karena takut salah atau takut dipersalahkan
2. Tidak berani bersikap jujur mengungkapkan apa adanya tentang suatu kondisi, karena takut orang lain tersinggung/marah/sedih
3. Tidak percaya diri, sering ragu-ragu dan sering berpikir negatif
4. Mudah teralihkan oleh pendapat atau bisikan orang lain, dan tidak memiliki pendirian pribadi yang teguh
5. Sering mengubah-ubah keputusan yang telah disepakati tanpa adanya dasar dan tujuan yang jelas
6. Diliputi rasa sungkan yang kuat namun tidak bertindak apa-apa
7. Suka mengelak atau menghindar atau membiarkan ketika terjadi suatu masalah di dalam timnya (di antara orang-orang yang dipimpinnya), sehingga masalah tidak selesai dan justru semakin parah serta berkembang berlarut-larut.
Sayang sekali, ternyata terdapat begitu banyak pemimpin yang tidak tegas di dalam situasi yang kita jumpai sehari-hari. Karena itu, kita masing-masing perlu terus melatih diri dalam sikap tegas. Berikut adalah enam kiat untuk melatih diri menjadi pemimpin yang tegas dan efektif:
1. Mengubah cara berpikir tentang konsep “ketegasan”
Tindakan dan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Ketika cara berpikirnya salah, tindakan dan perilakunya akan salah pula. Ketika cara berpikir kita tentang ketegasan berubah menjadi benar, kita pun akan mampu bertindak dan berperilaku tegas. Untuk itu, kita perlu menanamkan ke dalam pikiran kita bahwa:
* Bersikap tegas adalah baik.
* Bersikap tegas tidak berhubungan dengan marah-marah atau bersikap kasar. (Orang yang tegas ataupun orang yang tidak tegas bisa saja marah.
* Bersikap tegas adalah sebuah sikap jujur dan apa adanya, yang berlandaskan dasar, bukti, dan tujuan yang jelas.
2. Memahami pentingnya ketegasan
Tanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu, mengapa Anda harus mengambil sikap tegas. Apa dampaknya terhadap diri Anda atau kelompok Anda jika Anda tidak bersikap tegas? Apakah keuntungannya bila Anda bersikap diam saja dan tidak mengutarakan secara jujur situasi yang ada dan sikap Anda terhadap situasi itu? Apa akibatnya jika keputusan tertentu tidak dijalankan? Dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, kita akan belajar memahami pentingnya sikap tegas dan terpacu untuk bersikap tegas pula.
3. Berlatih mengelola emosi
Bagaimana kita mengendalikan emosi rasa takut atau rasa sungkan  sangat menentukan keberhasilan kita sendiri untuk bersikap tegas. Maka, berhati-hatilah dalam menjaga kestabilan emosi setiap harinya. Apapun keadaan emosi kita, usahakan agar kita selalu berada dalam kondisi emosi yang positif. Jika ada sesuatu yang membuat emosi kita kurang baik, segeralah kembali kepada logika. Selalu utamakan dampak/akibat dari tindakan yang akan kita ambil: apakah bermanfaat atau justru merusak/merugikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.  Berlatihlah untuk mengalahkan rasa takut, rasa sungkan dan rasa khawatir, mulai dari hal-hal yang kecil.
4. Menantang diri sendiri dalam hal-hal positif
Sesuatu disebut tantangan karena mengandung risiko kegagalan/kerugian yang tinggi/besar. Risiko itu muncul dalam bermacam-macam bentuk, tergantung pada tantangannya. Orang yang tegas mampu mengubah pandangannya, bahwa risiko adalah bagian dari sebuah tantangan, dan tantangan itu akan menjadi indah jika dapat ditaklukkan. Orang yang tegas mau berusaha/mencoba menaklukkan tantangan, walaupun harus berhadapan dengan risiko gagal/rugi.
Dalam hal ketegasan, risikonya jelas: orang lain tidak suka dengan sikap Anda, Anda dianggap “pemarah”/“kaku”/“sok”/“bossy”, dsb. Berani mengambil risiko ini adalah bagian dari ketegasan. Jadi, jika Anda telah memutuskan untuk belajar bersikap tegas, itu semua adalah risiko yang memang harus Anda hadapi. Bukankah hidup memang penuh dengan risiko?
5. Memiliki gambar diri yang positif
Sudahkah Anda memahami tentang siapa diri Anda di dalam Tuhan? Memahami siapa diri Anda di dalam Tuhan berarti mengetahui kekurangan dan kelebihan diri Anda sekaligus mengetahui cara agar hidup Anda berkembang menjadi lebih baik. Ketika Anda memiliki citra diri yang positif tentang diri sendiri, Anda akan memiliki prinsip diri yang kuat pula dan tidak akan mudah khawatir atau takut dalam menyampaikan sesuatu dengan jujur namun positif. Ingat, berbagai ketakutan atau kekhawatiran di dalam diri menunjukkan citra diri yang negatif.
 
6. Membangun rasa aman bagi orang-orang di sekitar ketika kita bersikap tegas
Apa akibatnya jika orang yang menyebabkan ketidakberesan terlanjur merasa tidak aman saat berada di dekat kita? Ini dapat saja terjadi jika misalnya, kita sering berekspresi wajah tegang/marah saat menegurnya dan mengoreksi kesalahannya. Orang yang merasa tidak aman akan memasang tembok “pelindung” yang tebal, sehingga koreksi apa pun yang kita sampaikan akan “memantul” begitu saja tanpa menghasilkan perubahan di dalam dirinya.
Karena itu, kita sangat perlu membangun rasa aman bagi orang-orang di sekitar kita, agar saat kita bersikap tegas, ada manfaat maksimal yang dihasilkan dari ketegasan kita itu. Semua ini dimulai dari mengubah cara kita mengekspresikan ketegasan, agar persepsi orang lain terhadap sikap kita pun berubah dan tercipta rasa aman para orang lain, termasuk pada orang yang sering/biasa kita koreksi.
Dengan adanya rasa aman, orang yang ditegur akan siap mendengar koreksi dengan efektif. Satu menit pertama adalah momen yang sangat penting dalam menciptakan persepsi, maka manfaatkan satu menit pertama ini untuk menunjukkan sikap tegas Anda yang positif melalui bahasa tubuh dan vokal yang positif pula. Usahakan agar bahasa tubuh dan vokal Anda (posisi duduk/berdiri, posisi tubuh, nada dan kecepatan suara, dsb.) selaras dengan bahasa tubuh dan vokal orang yang sedang Anda tegur/koreksi.
Keselarasan ini secara bawah sadar akan membangun rasa nyaman/aman pada orang itu dan pada diri kita sendiri. Rasa nyaman dan aman inilah yang akan membuat kita dapat bersikap tegas secara efektif, sekaligus orang itu dapat menerima koreksi secara efektif pula.
Semoga bermanfaat
SALAM SUKSES
+ SIDEBAR

MORE INFO ?

December 2017
M T W T F S S
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031